Berdua kami melintasi sejarah
Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah
Dan aku bertanya: apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan
Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?
Sahabatku menjawab: Waktu
Hanya waktu yang mampu
Kulihat di kiri-kananku; pohon memudar, gedung kaca meruncing
Tahun-tahun yang berlumur peluh dan banjir rencana
Dan aku bertanya: apakah lelah kami cukup terbayar oleh petuah dan janji?
Apakah kemajuan sama dengan kebajikan?
Sahabatku menjawab: Hati
Hanya Hati yang tahu
Terkadang jembatan ini gamang dan berguncang
Tahun-tahun yang terasa garang dan panas mengerontang
Dan aku bertanya: mungkinkah kami tersesat dan hilang arah?
Bisakah pijakan ini goyah dan lantas punah?
Sahabatku menjawab: Doa
Hanya doa yang kuasa
Jembatan ini kami lalui sudah
Tiada ujung yang kutangkap, tiada awal yang kukenal
Dan aku bertanya: akankah kami bertahan?
Sebagai nusantara, sebagai bangsa, sebagai manusia?
Sahabatku berkata: pahami lautan tempat jembatan ini terbentang
Kenali kekuatan waktu
Dalami pengetahuan hati
Selami kekalnya doa
Kabut menyapu jembatan dan sahabatku menghilang
Meninggalkan gugusan pulau tak berjudul dan samudra tak bernama
Namun disini aku menguntai waktu, memerah hati, dan meratapkan doa
Demi jembatan ini sebagian kami mati, sebagian kami bertahan hidup
Dan aku bertanya: inikah kedaulatan yang sesungguhnya?
Saat manusia bersatu dengan apa yang mengelilinginya
Samudra waktu, hati dan doa
Ia pun merdeka
Sebuah bangsa pun merdeka
Nusantara pun layak ada
Demikian jawabnya
Dee
Dalam bukunya ‘Madre’
mahasiswi manajemen 2008 FEUI. ditengah kelabilan mencari jati diri dan kontribusi :D